Televisi Kini Semakin ditinggalkan, Apakah Kiamat Jurusan Pertelevisian telah Tiba?

Prospek masa depan atau peluang kerja pertelevisian menjadi bahan pembahasan kita kali ini. Tulisan ini ditujukan untuk jurusan broadcasting yang mengambil sepesifikasi pertelevisian. Lebih khusus lagi pertelevisian type konvensional.

Televisi konvensional yang kami maksud adalah televisi yang hadir dalam bentuk kotak televisi yang diletakan atau digantung statis dalam salah satu ruangan di rumah atau kantor kita. Kita hanya dapat menonton tayangan televisi yang diatur, baik isi maupun jadwalnya, oleh stasiun televisi tertentu, seperti TRANS 7, TRANSTV, TVOne, iNews TV, Kompas TV dan sebagainya.

Tulisan ini mungkin akan membuat sebagian pembaca tidak setuju atau bahkan mungkin terganggu, terutama yang berkecimpung di dunia pertelevisian konvensional. Namun demikian, kami sama sekali tidak bermaksud menyinggung atau menjelekan jurusan tertentu.

Harapan kami sederhana saja, mudah-mudahan tulisan ini bisa membawa inspirasi dan perbaikan bagi siapapun yang membacanya.

Sekilas Jurusan                                                                                                                            

Jurusan broadcasting, dikenal juga dengan jurusan penyiaran, adalah jurusan yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang komunikasi, produksi dan penyiaran. Biasanya, alumni jurusan broadcasting akan bekerja di sektor pertelevisian dan radio. Namun kebanyakan adalah di bidang pertelevisian.

Bekerja di bidang pertelevisian juga banyak jenisnya. Bisa di bagian kamera, produksi, reporter atau pembaca berita. Bisa juga dibagian program director atau maintenance perlengkapan dan sarana produksi.

Bagi yang kuliah di jurusan broadcasting, khususnya jurusan pertelevisian, biasanya akan mempelajari ilmu-ilmu tentang pengetahuan sejarah televisi, penulisan naskah film atau acara, tata kamera, editing artistik dan sebagainya.

Semua mata kuliah tersebut bertujuan agar mahasiswanya dapat menjadi pekerja dan manajer di industri pertelevisian.

Pemirsa Televisi terus menurun

Pada sisi lain, ada fakta menyedihkan bagi para pelaku industri televisi, bahwa ternyata pemirsa atau penonton televisi konvensional mengalami penurunan yang cukup signifikan. Silahkan perhatikan data hasil riset di samping.

Hal ini terutama terjadi pada generasi muda, di bawah usia 50 tahunan. Penurunan ini terjadi karena munculnya media hiburan alternatif yang lebih variatif, menghibur dan bebas memilih tayangan dibanding televisi konvensional. Media hiburan alternatif tersebut antara lain video games, media sosial online sekelas facebook, twitter atau instagram, layanan video streaming dan Youtube.

Video games, walaupun bukan faktor yang berpengaruh signifikan, jelas mengurangi pemirsa televisi. Apa lagi video games yang sekarang diproduksi sudah benar-benar menghibur dan memanjakan. Dibuat dengan rendering yang halus dan efek-efek khusus yang memukau ditambah dengan alur dan tantangan cerita yang variatif. Tanpa iklan pula. Benar-benar dapat membuat penggunanya kecanduan. Jauh berbeda dengan televisi konvensional yang seringkali diselingi iklan yang membuat bete.

Media sosial seperti facebook dan instagram juga telah mengambil peran dalam menurunkan pemirsa televisi. Media sosial lebih disukai karena setiap pengguna dapat terlibat aktif, saling berbagi konten, dan saling berinteraksi satu sama lain. Bahkan, melalui sosial media tersebut, para pengguna dapat melakukan promosi barang dan jasa yang mereka miliki dengan biaya yang jauh lebih murah daripada promosi di televisi.

Munculnya layanan video streaming juga menjadi penyebab menurunnya pemirsa televisi. Layanan video streaming seperti iflix atau netflix misalnya, membuat penggunanya lebih bebas memilih acara apa yang hendak ditonton, film apa yang hendak ditonton dan genre apa yang ingin dipilih.

Beda halnya dengan televisi konvensional. Jika film yang diputar adalah Transformer: Dark Side of Moon, misalnya, kita tidak bisa mengganti pilihan film tersebut walaupun fim itu sudah kita tonton berkali-kali. Kita hanya bisa ganti saluran/channel televisinya saja. Tapi tetap saja, kita tidak bisa memilih konten, acara atau film apa yang hendak ditonton.

Saingan utama yang mencaplok pemirsa televisi secara signifikan adalah Youtube. Youtube menjadi alternatif hiburan yang lebih menyenangkan, dan ini yang menjadi kompetitor utama televisi konvensional, salah satu alasannya karena Youtube memberikan kebebasan kepada penontonnya untuk memilih hiburan apa yang hendak ditonton. Berbeda dengan televisi konvensional yang mengatur jadwal tontonan tanpa bisa dipilih oleh penonton.

Youtube juga memberikan fasiltas kepada penggunanya untuk dapat berkomentar atau mengajukan pertanyaan terkait video yang ditontonnya. Bahkan penggunapun dapat memberikan jempol atas (like) jika video yang ditontonnya bagus dan memberikan jempol bawah (dislike) jika vdeo yang ditontonnya tidak bagus.

Riset tersebut memang dilakukan di Amerika sana. Tapi bukan tidak mungkin, 3 sampai 5 tahun yang akan datang, seiring dengan kemajuan teknologi dan peningkatan kecepatan internet, Fenomena itu terjadi pula di Indonesia.

Era Digital telah mendominasi

Satu benang merah yang dapat ditarik dari menurunnya pemirsa televisi dan hadirnya media hiburan alternatif adalah dominasi konten digital terhadap konten konvensional. Hal ini wajar saja karena memang eranya sudah era digital. Selain itu, konten digital tersedia lebih beragam.

Konten digital tersebut tersebar dalam beragam bentuk. Mulai dari sekedar teks, audio, video atau gabungan ketiganya. Konten-konten tersebut dapat diakses dengan mudah dan relatif bebas oleh banyak orang dengan hanya bermodal aplikasi dan jaringan internet.

Kemudahan dan kebebasan mengakses konten-konten tersebut semakin massive dengan adanya revolusi smartphone. Revolusi dari sekedar alat untuk berkomunikasi melalui pesan singkat dan telepon, berubah menjadi alat yang dapat melakukan banyak hal selain dua hal itu. Mulai dari berkirim gambar, membuat dan menonton video, mengingatkan waktu sholat, menunjukkan arah kiblat sampai untuk memantau kesehatan anak dan keamanan pintu serta jendela.

Smartphone pun berubah menjadi media hiburan dan pembelajaran yang praktis dan menghibur. Menonton trailer film terbaru di youtube sambil duduk minum kopi atau antri di apotik. Aktif di sosial media sambil mengasuh anak, atau belajar beragam resep masakan step by step sambil langsung praktek di dapur. Semua itu difasilitasi oleh smartphone, internet dan juga (biasanya) youtube.

Semua hal itu terjadi di era digital. Internet, smartphone dan aplikasi adalah kuncinya.

Dan, sampai saat tulisan ini dibuat, stasiun televisi konvensional yang sudah membuat aplikasi streaming untuk memfasilitasi konten digital mereka agar bisa dinikmati pemirsanya, baru .NET, yang lain sepertinya belum.

Kreatifitas dan inovasi

Lantas, bagaimana sekarang  bagi teman-teman yang sudah kuliah di jurusan pertelevisian?

Apakah harus keluar dan pindah jurusan?

Jawabannya adalah tidak perlu. Teman-teman dapat tetap kuliah di jurusan tersebut, tentu dengan sedikit saran.

#Saran 1. Jangan menutup mata atau menganggap remeh perkembangan teknologi dan informasi.

Menganggap remeh terhadap sesuatu adalah pangkal dari kehancuran. Teman-teman zaman sekarang ada yang masih ingat HP merk NOKIA? Sudah sangat jarang orang yang tahu dan mengingatnya. Padahal NOKIA adalah salah satu legenda HP yang telah bertahan selama puluhan tahun. Tapi sekarang? Masih adakah yang memasang neon sign NOKIA di  toko-toko smartphone? Hampir tidak ada. Sebab, produk-produk nokia sudah ditinggalkan.

Kenapa ditinggalkan? Karena nokia lambat, terlalu lambat malah, mengaplikasikan OS android pada HP produksinya. Akibatnya, OS symbian yang selama puluhan tahun digunakan nokia ditinggalkan karena sudah jadul dan miskin fitur.

Lambatnya nokia berinovasi salah satu sebabnya karena ia adalah market leader. Menguasai pangsa pasar HP saat itu. Sehingga ia khawatir, produknya yang menggunakan OS android akan ‘mematikan’ produk lainnya yang menggunakan OS symbian.

Sebab lainnya adalah (mungkin) karna nokia merasa sebagai market leader dan memiliki brand awarness yang cukup kuat di benak konsumen. Memang benar, saat itu brand nokia sangat mendominasi. Tapi hal itu segera ditinggalkan ketika beragam smartphone dengan OS android hadir membawa aneka fitur canggih yang tidak ada di produk nokia.

Buat apa merknya keren tapi fiturnya jadul!? Mungkin begitu alasannya.

#Saran 2. Pelajarilah cara-cara membuat konten digital yang keren, inspiratif dan berpotensi untuk viral.

Membuat konten digital, baik teks, gambar atau video, zaman sekarang tidak terlalu sulit. Beragam tutorial dan aplikasi hadir dan sangat memudahkan. Namun membuat konten yang berkualitas dan berpotensi viral, itu perkara lain. Butuh ilmu, fokus, serius dan ketekunan untuk mewujudkannya.

Namun, jika teman-teman sudah berhasil membuat konten yang berkualitas, menginspirasi dan kemudian viral, maka potensi untuk menambah isi pundi-pundi rekening bank melalui konten-konten digital akan semakin besar. Bagaimana caranya? Maaf, tidak saya bahas di sini.

# Saran 3. Jurusan dan Stasiun televisi konvensional sebaiknya segera merambah dunia digital.

Kemajuan teknologi berkembang dan berlari demikian pesat. Kita tidak bisa menghindari atau mencegahnya. Dan hanya yang terus berinovasi dan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang akan survive.

Oleh karenanya, jika di kampus ada mata kuliah yang sudah tidak relevan dengan perkembangan teknologi, atau sarananya terlalu jadul, ada baiknya untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Jika stasiun televisi konvensional yang ada belum menyediakan konten-konten digital untuk para pemirsanya, maka mulailah membuatnya. Harapannya tentu agar pemirsa tetap setia walaupun mereka menontonnya lewat smartphone sambil antri di apotik.

Demikianlah prospek pertelevisian konvesional yang sepertinya akan semakin muram. Mudah-mudahan kemuraman ini segera berakhir berganti dengan kecerian melalui jalan kreatifitas dan inovasi para pelakunya. Salam inovasi.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *