3 Pelajaran Human Value dari Nilai Transfer Fantastis Neymar Jr

Saya bukan penikmat sepak bola, jadi kalaupun nonton paling  cuma sesekali. Oleh karenanya saya kaget ketika membaca berita nilai transfer Neymar begitu fantastis, Rp. 3,5 triliun.  Karena nilai fantastis itulah, kali ini saya akan membahasnya dari sudut pandang dengan kaitan terhadap para mahasiswa. Semoga bermanfaat.

Neymar da Silva Santos Junior, atau lebih dikenal Neymar Jr., resmi menerima lamaran dari PSG dengan mahar 222 juta euro atau setara dengan Rp 3,5 triliun. Sangat Fantastis! Jumlah transfer ini memecahkan rekor nilai transfer sebelumnya yang dipegang Paul Pogba, dari Juventus ke MU, dengan nilai 105 juta euro (sekitar Rp. 1,5 triliun).

Menurut teman-teman, apakah nilai transfer itu cukup pantas dan memang layak untuk seorang Neymar Jr.? Atau ada di antara teman-teman yang berpendapat, nilai transfer itu terlalu tinggi? Atau bahkan justru terlalu rendah?

Apapun jawaban teman-teman, nilai fantastis Neymar Jr. itu memberikan tiga poin pelajaran yang amat penting dan patut kita renungkan. Terutama terkait dengan pembahasan human value. Human value adalah nilai atau harga yang pantas pada diri seseorang terkait knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan) dan attitude (sikap) yang ia miliki

Human value ini sangat penting kita persiapkan, apalagi kita adalah para mahasiswa yang setelah lulus akan masuk ke dunia kerja dan dunia karya. Karena dari human value itulah sesungguhnya gaji dan karier kita dilukis dan diperjuangkan.

Mari kita diskusikan bersama tiga poin pembelajaran esensial itu disini.

Point 1#  nilai transfer Neymar  Jr.  yang sangat fantastis itu adalah bukti nyata dan tak terbantahkan, betapa nilai human value amat sangat berharga dan menentukan. Baik itu bagi sekolah,  lembaga nirlaba, perusahaan yang profit oriented, departemen negara  ataupun klub sepakbola.

It’s human value, bro. Begitu kalimat yang mungkin bisa sampaikan bagi teman-teman yang meradang atau merasa terlalu besar dengan nilai transfer itu. “Harga kompetensi manusia” memang sepatutnya harus mahal. Sebab ia merupakan aset paling utama yang akan mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi jatuh bangunnya sebuah organisasi.

Dengan kata lain, investasi 3,5 triliun rupiah itu niscaya menjadi sangat beralasan manakala Neymar jr. bisa kembali menujukkan kompetensi yang dimilikinya. Dalam hal ini performa gol, assist dan minimnya perolehan kartu menjadi beberapa ukurannya. Jika demikian, maka uang transfer fantastis itu akan dapat segera kembali dengan peningkatan performa PSG. Baik berupa membanjirnya jumlah pentonton, meningkatnya nilai sponsor dan juga royalti dari tayangan televisi.

Sekarang mari kita tanya diri kita sendiri.

Dalam konteks Anda sendiri, berapa kira-kira “nilai transfer” yang layak Anda miliki? Maksudnya jika ada perusahaan yang tertarik dengan talenta teman-teman dan ingin menerima sebagai karyawan, berapa “nilai transfer” yang layak teman-teman patok? 1 juta? 3 juta? 10 Juta? Atau 50 juta? Atau bahkan 1 milyar?

Tinggi rendahnya nilai yang teman-teman berikan menunjukkan seberapa penting “kompetensi” yang kita miliki bagi perusahaan.

Poin #2 adalah begini : dalam mengelola SDM menuju keunggulan organisasi, para leader dan manager di organisasi atau perusahaan tersebut akan bersikap ‘diskriminatif’.

Maksudnya begini, jika dari 1000 orang karyawan dalam sebuah perusahaan, kemudian muncul 100 orang yang memiliki skill lebih banyak dan performanya bagus, maka para manager itu akan memprioritaskan 100 orang tersebut untuk mendapat insentif atau bonus yang lebih banyak dari pada yang lain. Jika dari 100 orang tersebut kemudian muncul 10 orang dengan performa hebat, target pekerjaan terlampaui dan multi talenta. Maka para manager itu akan memberikan kesempatan untuk kenaikan karier yang lebih cepat.

Diskriminatif, tapi itu adil.

“Diskriminatif’ dalam kasus lainpun kadang terjadi.

Bentuknya begini.

Misalnya dalam sebuah perusahaan ada 1000 orang karyawan, maka secara umum, akan ada 10% karyawan terbaik dan 10% karyawan terburuk. Sisanya, rata-rata saja. Pada perusahaan bonafid, maka biasanya yang 10% terburuk akan mendapat evaluasi (baca: rekomendasi untuk dipecat).

Mengapa direkomendasikan untuk dipecat?

Karena perilaku buruk dari karyawan terburuk tadi, walaupun cuma 10% akan berpengaruh buruk terhadap keseluruhan karyawan. Jadi, daripada karyawan lainnya ikut-ikutan terbawa buruk, lebih baik dipecat saja.

Point #3. Belajar yang cerdas dan latihan yang keras tidak akan mengkhianati.

Neymar Jr mengasah kepiawaiannya mengolah bola sejak ia masih duduk di sekolah dasar (Usia 6-7 tahunan). Ia terus mengasah keterampilannya dibawah bimbingan sang ayah. Bergabung dengan klub sepak bola sejak usia 11 tahun, kemudian merumput bersama Santos FC selama 6 tahun. Hingga tahun 2010 Neymar Jr masih membela klub Lokal Brazil, Santos FC.

Hampir 12 tahun Neymar mengasah skill sepak bolanya, dan kini jadilah ia bintang. 12 tahun jangan hanya dilihat bilangan tahunnya, tapi juga berapa kali ia harus cedera. Berapa kali ia harus ditandu ke luar lapangan karena tackle dari lawannya. Belum lagi godaan hura-hura dan hidup bebas sperti remaja pada umumnya.

Pertanyaannya adalah, sudah berapa lama kita mengasah skill kita? Jika kita cuma kuliah 4 tahun itu juga sering bolos, tugas minta dikerjakan teman, presensi sering titip dan enggan membaca jurnal-jurnal imiah, bagaimana mau lulus jadi sarjana berkualitas? Bisa-bisa, teman-teman lulus tapi malah linglung. Baca di sini penjelasannya, agar setelah selesai kkuliah, lulus tapi linglung.

Jadi, jika ingin punya skill yang bagus, pemahaman yang bagus dan mampu mengaplikasikannya dengan bagus, rajin-rajinlah belajar, rajin-rajinlah berlatih. Itu saja. Dan itu semua sudah dilakukan Neymar Jr sebelum ia menikmati transfer fantastis tersebut.




2 thoughts on “3 Pelajaran Human Value dari Nilai Transfer Fantastis Neymar Jr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *