Keren! Mahasiswa FTP UB Kembangkan Alat untuk Meningkatkan Nutrisi pada Beras

Inovasi adalah jantung dari sebuah kemajuan peradaban. Jika berhenti inovasi, berhentilah peradaban. Inovasi apapun itu.

Terkait dengan inovasi, baru – baru ini ketiga mahasiswa FTP UB berhasil ciptakan alat untuk meningkatkan mutu gizi beras dengan memanfaatkan proses pengolahan beras pratanak (beras sebelum ditanak). Alat ini diciptakan oleh tiga mahasiswa yaitu Novemi Inka Rayna sebagai ketua tim, Choirima Ulfa Rusnia, Moh. Fariq dengan dosen pembimbing Endrika Widyastuti S.Pt., M.Sc., M.P.

Pembuatan alat ini bertujuan untuk mengikuti ajang PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Penciptaan alat ini dilatar belakangi oleh banyaknya kandungan nutrisi pada beras yang terbuang akibat perlakuan pasca panen seperti penggilingan, dan lain-lain. Pada lain sisi, beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia sehingga beras memiliki peranan cukup besar untuk menyuplai nutrisi pada tubuh. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memaksimalkan nutrisi pada beras.

Proses pengolahan beras pratanak terdiri dari tiga tahapan yaitu perendaman, pengukusan dan pengeringan. Proses pengolahan tersebut selama ini dilakukan secara terpisah karena masih menggunakan alat konvensional.

Berbeda halnya dengan ARSI (Automatic Rice Processing) yang dapat langsung digunakan untuk ketiga proses tersebut sehingga lebih praktis dan tidak memerlukan banyak tenaga untuk memindahkan produk dari tahap satu ke tahap selanjutnya.

Ketiga proses tersebut berperan penting untuk meningkatkan mutu gizi beras karena selama proses tersebut kandungan nutrisi dari kulit gabah akan berdifusi ke beras sehingga kandungan nutrisi menjadi meningkat. Kandungan gizi beras pratanak mencapai 80% mirip dengan beras tanpa sosoh (brown rice).

ARSI (Automatic Rice Processing) dibuat dari bahan stainless steel 304 yang bersifat food grade sehingga aman bagi produk pangan dengan ukuran panjang, lebar serta tinggi 50 x 50 x 50 cm.  Pada tahapan proses pengeringan, dilakukan didalam ARSI dengan wadah tertutup sehingga membuat produk beras pratanak yang dihasilkan menjadi lebih higienis karena tidak terkontaminasi dengan lingkungan.

Hal ini tentu berbeda dengan pengolahan konvensional yang memanfaatkan sinar matahari sehingga memerlukan waktu yang lebih lama serta memiliki resiko tinggi untuk terkontaminasi dengan lingkungan.

Pengoperasian ARSI menggunakan dua komponen utama yaitu timer dan temperatur kontrol sebagai otomatisasi alat. Penggunaan temperatur kontrol untuk mendeteksi suhu yang digunakan dalam proses pengolahan dimana saat suhu tidak sesuai maka alat otomatis berhenti bekerja dan saat suhu telah sesuai maka alat dapat bekerja kembali secara normal.

Pengontrolan suhu perlu dilakukan karena jika suhu tidak sesuai seperti saat pengukusan maka proses pengukusan tidak dapat berjalan dengan maksimal sehingga proses gelatinisasi pada beras tidak dapat tercapai.

Selain praktis dalam pengoperasian dan menghasilkan produk yang lebih higienis, ARSI masih memiliki berbagai kelebihan lain yang bisa ditawarkan seperti dilengkapi timer dan temperatur kontrol untuk mengatur otomatisasi alat, memerlukan waktu yang lebih singkat dalam proses pengolahannya dibanding menggunakan alat konvensional serta menghasilkan produk beras dengan kandungan pati resisten.

Pengolahan beras pratanak menyebabkan beras mengalami gelatinisasi saat pengukusan dan retrogradasi saat pengeringan sehingga dapat terbentuk pati resisten yang mana pati resisten ini mampu menurunkan indeks glikemik beras yang mana cocok untuk penderita diabetes. Selain itu, beras pratanak juga tinggi akan serat jika dibandingkan dengan beras pada umumnya” ungkap Novemi.

Pengolah gabah menjadi beras pratanak juga menyebabkan nilai jual beras menjadi lebih tinggi dimana selama ini rata-rata harga beras biasa berkisar 10.000 – 11.000 per kg sedangkan jika dihasilkan produk beras pratanak mencapai harga 40.000 per kg di pasaran. Tentunya, hal ini dapat menjadi keuntungan bagi para petani.

Dengan berbagai kelebihan yang ada, diharapkan mampu menjadi solusi untuk meningkatkan mutu gizi pada beras. Mengingat, beras merupakan pangan pokok sebagaian besar rakyat Indonesia. Ketika peningkatan gizi pada beras dapat terlaksana maka kualitas dari beras tersebut dapat meningkat sehingga negara menjadi lebih sejahtera karena kesejahteraan negara tidak hanya dilihat dari kuantitas pangan namun dilihat pula dari kualitasnya. Peningkatan mutu gizi pada beras juga dapat sebagai cara untuk melaksanakan program SDGs yang diikuti oleh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *